Gunung Sepuh

Tentang Sunda

Balangantrang

Didalam cerita rakyat sunda tokoh Balangantrang banyak di kenal melalui sejarah lisan namun saat ini agak sulit mem bedakan peran Ki Balangantrang dengan Lengser atau Cerita Sikabayan. Karena ketiganya lebih dikenal dari perilakunya yang nyeleneh namun mengandung makna kajian yang da lam melalui sindir sampir. Merekapun hanya diala bobodora nana.

Cerita Si Kabayan mengisahkan tokoh sunda yang sederhana namun hidup dijaman modern. Cerita ini banyak menam pilkan kisah-kisah lucu dan cerdik. Sehingga sosok Kabayan digambar sebagai orang sederhana yang lugu dan lucu na mun kadang-kadang cerdik. Jika saja para penyaji cerita pan dai meramu kisahnya dengan baik, seolah-olah membawa penononton untuk melakukan intropeksi dan mentertawa kan diri sendiri.

Sikabayan dikenal lewat banyol an lisan namun Lengser dikenal lewat gerakannya. Peranan Lengser saat ini banyak dikenal melalui upacara adat sunda. Kolaborasi menjaga tradisi karuhun dengan intertement. Digambarkan sebagai kakek-kakek, berkumis, gendut, jalan agak membungkuk dengan tangan dibelakang, jalan lenggak lenggok, berpakaian seperti orang jaman dulu, memakai totopong dan membawa kaneron, berperan sebagai penyambut tamu dan pembawa berita. Sampai saat ini saya belum mendapat referensi resmi tentang peranan Lengser didalam birokrasi kerajaan sunda, apakah Lengser ini patih kerajaan ? atau punakawan seperti semar dalam cerita pewayangan ?; atau bentuk lain yang disembunyikan dari peranan aKi Balangantrang ?”. Namun memang ada juga yang menyebutkan peranan Lengser dalam kerajaan Sunda sebagai Purohita.

Dalam catatan sejarah lisan maupun resmi, Aki Balangan trang merupakan nama lain dari Bimaraksa, senapati seka ligus Mahapatih Galuh dimasa pemerintahan Purbasora. Dida lam paradigma sejarawan sunda, Bimaraksa dikatagori kan sebagai patriot Galuh. Ia terlibat langsung dalam epos perjua ngan Galuh melawan kerajaan sundapura.

Perlu ada semacam penekan tentang istilah “Kerajaan Sunda” yang dimaksud dalam cerita ini, bukan suku atau etnis, atau Geografis, (mengenal sunda besar dan sunda kecil ; selat sunda dll) melainkan “Sundapura” nama negara kecil yang dijadikan lokasi penerus pemerintahan kerajaan Tarumana gara, Karena Tarumanagara pamornya merosot maka Terus bawa, menantu Linggawarman (wafat 669 M) menganggap perlu untuk mengalihkan pusat pemerintahan Tarumanaga ke Sundapura (670 M).

Terusbawa sebelum menggantikan Linggawarman sebagai raja Tarumanaga adalah raja di Sundapura. Posisi Sundapura sebelumnya merupakan salah satu kerajaan kecil dibawah kekuaasaan Tarumanagara, sama halnya dengan Galuh dan kerajaan kecil lainnya (+ 46 negara).

Pemindahan pusat pemerintahan dan penggantian nama dari Tarumanagara menjadi Sundapura (670 M), memicu Wreti kandayun untuk memisahkan Galuh dan Negara-negara kecil disekitarnya dari Sundapura. Namun Terusbawa menyadari posisinya dan memilih jalan damai, maka Galuh didiamkan untuk bediri sendiri lepas dari Kerjaan Sundapura. Mengenai batas wilayah Galuh dan Sundapura disepakati dibatasi oleh Sungai Citarum. Galuh kemudian dikenal pula dengan sebut an Parahiyangan.

Jika dilihat dari batas Kerajaan Tarumanagara yang menda sarkan pada catatan sejarah jawa barat, pada saat Purnawar man Wafat, terdapat 46 kerajaan yang ada dibawahnya. Istilah “tungtung sunda” dalam peta Indonesia sekarang dapat meliputi Selat Sunda dengan Kali Serayu di Jawa Tengah bagian selatan dan Kali Brebes (Cipamali) di Jawa Tengah bagian utara.

Peranan aKi Balangantrang dalam sejarah lisan lebih dikenal melalui cerita Ciung Wanara, berperan sebagai pengasuh Ciung Wanara. Dikisahkan pasangan Aki dan Nini Balangan trang telah lama merindukan seorang anak, hingga suatu malam ia bermimpi kejatuhan bulan. Mimpi itupun ditafsir kan, : ia akan menerima rejeki. Malam itu juga Aki Balangan trang membawa kecrikan (jala penangkapan ikan) kesungai Citanduy.

Betapa gembiranya Aki Balangantrang menemukan ranjang emas yang isinya sesosok bayi mungil, ditemani sebutir telur ayam. Bayipun dirawat hingga dewasa dan diberi nama “Ciung Wanara”. Sedangkan telur ayam kemudian ditetaskan dan jadilah “Hayum aduan”. Kemudian yang tak kalah hebatnya adalah peranan sang ayam yang dijadikan taruhan. Konon kabar dari sang juru pantun, ayam Ciung Wanara tersebut tidak terkalahkan, berkat ayam adu ini kemudian Ciung Wanara dapat menerima tahta galuh.

Dalam Babad Pajajaran yang menjadi pengasuh Ciung Wana ra adalah Ki Anjali, pemilik panday besi – pengolah besi un tuk berbagai keperluan perkakas dari besi, termasuk senjata tajam. Ki Anjali disebut-sebut juga sebagai orang yang memperkenalkan Ciung Wanara kepada lingkungan Kerajaan Galuh.

Ada juga sumber lain yang mengabarkan, bahwa Ki Anjali adalah partisan Galuh pendukung Ki Balangantrang, bertugas membina masa rakyat di panday besinya untuk melakukan pemberontakan terhadap Sundapura. Selain eksistensi para tokoh diatas disebutkan peranan Banga atau Haryang Banga yang umurnya dianggap lebih tua dari Ciung Wanara. Mung kin cerita ini agak “kasilih” dengan cerita Lutung Kasarung, karena dalam cerita ini ada juga disebut eksistensi wanara (kera). Sekalipun demikian, memang ada persamaan ending dari ceritanya, yakni Ciung Wanara atau Manarah menjadi raja di Galuh menggantikan Tamperan. Sebenarnya kita tidak dapat menyalahkan para petutur lisan ini, yang sering hiper bol atau warokti dalam menuturkan kisahnya, bahkan mem biarkan hayalannya (cittanung maya) jauh membumbung meninggalkan kesejatian sejarah. Selain diatas, para petutur biasa juga tidak mengenal adanya batas logika, kita masih perlu menafsirkan hingga sesak dengan pemaknaan.

***

Jika ditilik dari cikal bakal raja-raja Galuh, menurut Pustaka Raja Nusantara, pada umumnya dikenal dari kepanditaan dan kesalehannya dalam memegang “tetekon agama jeung dari gama”. Hal ini tidak heran karena sejarah leluhur pendiri Galuh berasal dari Kendan, yakni “Resiguru Manikmaya”.

Kekuasaan di Kendan ia dapatkan setelah menikah dengan putri Maharaja Suryawarman, raja Tarumanagara. Sehingga wajar jika dalam cerita rakyat sekitar Galuh, pemihakan terhadap raja-raja yang saleh (minandita) lebih dihormati ketimbang raja-raja yang hanya mengurusi tahta. Sedangkan wilayah Galuh sendiri lebih dikenal dengan sebutan Parahya ngan (Para Hyang).

Galuh didirikan oleh Wretikandayun setelah membebaskan diri, tanpa darah dari Sundapura (670 M). Wretikandayun memiliki tiga orang putra, yakni Sempakwaja, Jantaka dan Mandiminyak. Hanya karena Sempakwaja giginya ompong dan Jantaka memiliki Hernia maka keduanya dianggap tidak berhak mewarisi tahta Galuh. Wretikandayun wafat tahun 702 M dalam usia 111 tahun.

Sepeninggal Wretikandayun, tahta Galuh diserahkan kepada Mandiminyak, anak bungsunya. Dalam catatan sejarah Mandi minyak disebut-sebut memiliki dua orang putra, yakni Brata senawa atau Sena dan Sanaha. Sena merupakan anak hasil perselingkuhannya dengan Rabbabu, istri Sempakwaja. Sanaha anak dari Parwati putri pasangan Kertikeyasinga dengan Ratu Sima. Kemudian Sena dan Sanaha (saudara se ayah) melakukan pernikahan dan melahirkan Sanjaya.

Sebelum menjadi raja galuh , Mandiminyak bersama istrinya pada tahun 695 M telah memerintah Mataram Kuno, pecahan dari Kalingga. Mandiminyak, setelah wafat digantikan Brata senawa (709M) anak dari Rabbabu. Memang peristiwa kela hiran Sena di Galuh dianggap aib besar. Untuk mendinginkan suasana Wretikandayun terpaksa harus memisahkan Mandi minyak dari Galuh dan menikahkannya dengan putri dari kerajaan kalingga.

Berikut ini saya cuplik dari Carita Parahyangan :

Carek Rahiang Sempakwaja: “Rababu jig indit. Ku sia bikeun eta budak ka Rahiang tang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah.” Rababu tuluy leumpang ka Galuh. “Aing dititah ku Rahiang Sempakwaja mikeun budak ieu, beunang sia ngaga dabah aing tea.” Carek Rahiangtang Mandiminyak: “Anak aing maneh teh, Sang Salah?” Carek Rahiangtang Mandiminyak deui: “Patih ku sia budak teh teundeun kana jambangan. Geus kitu bawa kategalan!” Dibawa ku patih kategalan, Samung kurna patih, ti eta tegalan kaluar kila-kila nepi ka awang-awang. Kabireungeuh ku Rahiangtang Mandimi nyak “Patih teang deui teundeun sia nu aya budakna tea!” Ku patih diteang ka tegalan, kasampak hirup keneh. Terus dibawa ka hareupeun Rahiangtang Mandi minyak. Dingaranan Sang Sena.

Cerita yang sering hilang dari alurnya adalah alasan para keturunan Wretikandayun lainnya (Purbasora dan Bimarak sa) melakukan pemberontakan terhadap Bratasenawa yang termasuk keluarganya sendiri. Hal ini dimungkinkan jika dilihat dari dua alasan. Pertama, keturunan Sempakwaja (Purbasora) merasa lebih berhak menggantikan tahta Wreti kandayun, mengingat Sempakwaja anak pertama Wretikan dayun. Sedangkan Bimaraksa, anak jantaka merupakan me nantu dari Purbasora, sehingga wajar jika Bimarksa memi hak Purbasora.

Kedua dapat saja disebabkan oleh asal-usul kelahiran Sena dan perilaku Mandiminyak yang dianggap tidak lajim oleh keturunan Wretikandayun lainnya. Perilaku menyimpang ini didalam sejarah raja-raja tatar sunda selalu diberi cap ku rang baik. Selain hal tersebut, dilihat dari kesejarahan Galuh yang didirikan oleh seorang resi, mereka lebih menghormati raja-raja yang minandita. Disini ada semacam pesan moral yang terkait dengan masalah (bibit, bobit, bebet).

Dalam cerita yang beredar diluar Galuh, Sena memang dike nal sebagai orang alim namun kurang mendapat sambutan lingkungan keluarga Galuh, antara lain disebabkan sirsilah kelahiran diatasnya. Kekurang nyamanan lingkungan Galuh menyulut pemberontakan terhadapnya sehingga pada 716 M Sena dijatuhkan dari takhtanya, akibat pemberontakan yang dipimpin Purbasora.

Keberhasilan Purbasora tentunya tidak dapat dipisahkan dari peranan Demunawan dan Bimaraksa. Secara gagah bera ni Bimaraksa memimpin pasukan Bhayangkara, balabantuan dari Indraprahasta (kerajaannya terletak di Cirebon Girang). Bimaraksa dikenal pula sebagai senapati yang akhli memain kan berbagai jenis senjata dan akhli strategi perang. Meng ingat peran Bimaraksa yang begitu besar dalam pengguling an Sena maka Purbasora mengang katnya sebagai Senapati sekaligus Mahapatih Galuh. Sekalipun tidak sebanyak bahas an untuk Sanjaya, carita Parahyangan menceritakan perihal suksesi di Galuh, sebagai berikut :

Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purba sora. Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. Sanggeusna manehna sawa wa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibuni keun.

Keberpihakan Bimaraksa dan Demunawan terhadap Purbaso ra memberikan legitimatasi pada gerakan pemberontakan Purbasora, bahwa sedang terjadi pemberontakan dari tiga orang keturunan Wretikandayun terhadap keturunan Wreti kandayun lainnya yang dianggap tidak syah tetapi menguasai tahta Galuh. Disinilah mulai terbentuk epos aki Balangan trang.

***

Pada cerita sebelumnya dijelaskan identitas Balangantrang berikut eksistensinya dalam membantu Purbasora merebut tahta Galuh dari Sana, atau Bratasenawa. Namun Kisah keme nangan Senjaya, putra Bratasenawa merebut kembali Galuh hampir tidak diketahui, jarang diceritakan atau mungkin juga tidak pernah terceritakan dalam sejarah lisan, sehingga kisah Balangantrang menjadi raib. Kisah ini baru muncul kembali dalam cerita Ciung Wanara. Itupun karena Balangantrang disebut-sebut sebagai pengasuh Ciung Wanara.

Meretas alur kesejarahan Sanjaya di Galuh hemat saya menja di penting, karena eksistensi Sanjaya sebagai penguasa Sun da–Galuh didalam kesajarahan nusantara menjadi tak tersam bung, padahal Sanjaya adalah pendiri Wangsa Sanjaya di Ma taram Kuno – Medang, dan sekaligus penguasa Sunda dan Galuh. Dengan demikian Sanjaya memiliki wilayah kekuasa an yang lebih luas dari kekuasaan raja-raja Tarumanagara.

Keharuman nama Senjaya di Jawa Kwulon, Madha dan Pawa than tak terkirakan. Menurut Slamet Mulyana, hanya Sanjaya yang menggunakan gelar Ratu dalam sirsilah raja-raja Me dang, sedangkan yang lainnya menggunakan gelar Sri Maha raja. Gelar Ratu identik dengan sebutan Datu, pemimpin, keduanya diakui sebagai gelar orang Indonesia asli.

Prasasti Canggal yang dibuat Sanjaya pada tahun 732 M menyebutkan Raja Sanjaya merupakan pendiri Wangsa Sanja ya yang bertahta di Mataram Kuno – Jawa Tengah, Prasasti itupun menyebutkan, bahwa ada raja Medang sebelum Sanja ya yang memerintah Pulau Jawa, yakni Sanna.

Kisah Karuhun Sanjaya di Jawa Madha dan Pawathan terpu tus dan tidak terlacak, bahkan disinyalir hampir sama dengan kisah Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yang hanya mengkalim dirinya keturunan raja-raja Singasari. Namun kedua sejarah tersebut diuraikan dalam sejarah Sunda. Jika saja mau sedikit telaten “Nyungsi Laratan” Sanjaya, atau sedikit mau berbesar hati membuka wacana ke Indonesiaan, Karuhun Sanjaya sebenarnya diuraikan dalam Carita Para hyangan. Ia disebut sebut sebagai putra Sanna, sedangkan Sanna adalah Putra Mandiminyak dari hasil hubungan gelap nya dengan Rabbabu, istri Sempakwaja, kakak Mandiminyak, atau dikenal pula sebagai ayah dari Purbasora. Namun dida lam buku pelajaran kelas empat Sekolah Dasar, Sanjaya dise but-sebut berasal dari Kerajaan Saunggalah, tapi entah dima na, yang jelas Kerajaan ciptaan itu meleburkan eksistensi Galuh sebagai salah satu kerajaan yang ada di tatar pasun dan.

Carita Parahyangan memberi nama Rakeyan Jambri, dengan panggilan Rahyang Sanjaya. Fragmen dari Carita Parahyang an tersebut, sbb :

Lawasna jadi ratu, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun.

Carek Rahiangtang Kidul : “Putu, aing sangeuk kacicing an ku sia, bisi sia kanyahoan ku ti Galuh. Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuning an, sarta anak saha sia teh?”

Carek Rakian Jambri : “Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora.”

Ada juga yang mengaitkan Sannaha sebagai ibu dari Sanjaya. Karena dianggap suatu hal yang mustahil jika Sannaha mau mendudukan Sanjaya di tahta Medang sepeninggalnya Sena. Sannaha disebut sebut juga seba gai putri Mandiminyak dari Parwati, Putri Ratu Sima dengan Kartikeyasinga, penguasa Kalingga. Dengan demikian disinyalir pula adanya perkawin an sedarah, antara Sena dengan Sannaha.

Prasasti Mantyasih yang dibuat pada tahun 907 menyebut kan raja Medang pertama adalah Rahyang ta rumuhun ri Medang Poh Pitu (Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya) namun tidak menjelaskan adanya Sanna sebagai pendahulunya. Menurut versi ini, Sanjaya menjadi Raja di Medang setelah Sanna meninggal yang menimbulkan kekacauan. Kemudian Sanjaya menjadi Raja atas bantuan Sannaha, yang disebut-sebut sebagai Saudara perempuan Sanna.

Hilangnya jejak Sanjaya menimbulkan putusnya jujutan Karu hun Sunda Galuh, terutama kaitannya dalam Kisah Ciung Wanara. Salah satu contoh adalah Kisah Bimaraksa atau lala kon Aki Balangantrang setelah kekalahan Purbasora oleh Sanjaya. Kekisruhan sejarah lainnya ditenggarai dalam me nempatkan identitas Ciung Wanara atau Manarah dengan Banga atau Haryang Banga. Padahal keduanya merupakan penerus syah dari kekuasaan raja-raja di tatar pasundan.

Ciung Wanara dan Haryang Banga dianggap “dulur patetere an”, dan palaputra dari Prabu Brama Wijayakusumah, dari dua ini yang berbeda, yakni Pohaci Naganingrum yang ber putra Ciung Wanara dan Dewi Pangrenyep yang berputra Haryang Banga. Konon kabar ketika Haryang Banga berumur 3 tahun Pohaci Naganingrum belum juga hamil. Ketika hamil Dewi Pangrenyep memrintahkan semua embank meningal kan Dewi Pohjaci dengan alasan, : kelahiran bayi Pohaci akan diurus langsung oleh Pangrenyep. Menurut cerita pula, keti ka lahir bayi itu dibuang dan digantikan oleh seekor anjing, sehingga Dewi Pohaci dianggap melahirkan seeokr anjing. Serta dianggap aib dan harus dibuang. Disinilah dimulainya “lalakon” Ciung Wanara.

Dari untaian cerita rakyat, saya agak sulit menarik kesimpul an tentang : Siapa yang dimaksud dengan Prabu Brama Wija yakusumah ?, Tamperan Barma Wijaya atau Permana Dikusu mah. Karena keduanya pernah memiliki istri yang sama, yakni Dewi Pohaci dan Dewi Pangrenyep (lihat kisah bala ngantrang dalam Masa Ciungwanara). Bisa saja pasilih carita ini disebabkan dari cara menafsirkan rujukannya, karena dalam Carita Parhyangan Tamperan secara sepintas dapat disebut ayah Manarah.

Cuplikan dari persitiwa tersebut sebagai berikut :

Sang manarah males pati. Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh. Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah.

Masalah kedua, status Ciung Wanara dengan Haryang Banga yang dianggap saudara satu ayah, menimbulkan terputusnya kisah perseteruan keturunan Wretikandayun dari Sempakwa ja dan Jantaka dengan Mandiminyak. Berakibat pula eksisten si Purbasora dan Senjaya menjadi tidak terceritakan, serta peran Balangantrang didalam Kisah Ciung Wanara hanya menjadi bumbu cerita.

Masalah ketiga menyebabkan kisah kasih Tamperan dengan Dewi Pangrenyep, istri Permana Dikusumah tercampur deng an “lalampahan” Mandiminyak yang berhasil menghami li Rabbabu, istri kakaknya, yakni Sempak Waja.

Kisah ini disebut-sebut didalam Carita Parahyangan, dari hasil perselingkuhan melahirkan Sena (Bratasenawa) ayah Sanjaya. Bagi saya, ketidak utuhan penangkapan informasi oleh masyarakat menjadi wajar, karena masalah Mandimi nyak maupun Tamperan dianggap aib, sehingga pesannya disampaikan secara bisik-bisik.

Mungkin kekisruhan kisah ini yang menyebabkan peran Bimaraksa menjadi terpisah dengan nama Balangantrang. Karena Balangantrang dalam sejarah lisan hanya diberi pe ran sebagai pengasuh dan bumbu dari cerita Ciung Wanara. Padahal didalam sejarah Galuh, Balangantrang memiliki epos tersendiri, mengantarkan Ciungwanara ketampuk kekuasaan Galuh.

Pengambilan alihan kembali tahta Galuh oleh Sanjaya, seba gai pewaris syah dari Sena diuraikan dalam cerita Parahya-ngan :

Carek Rahiangtang Kidul: “Putu, aing sangeuk kacicing an ku sia, bisi sia kanyahoan ku ti Galuh.Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuning an, sarta anak saha sia teh?” Carek Rakian Jambri: “Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora.” “Lamun kitu aing wajib nulungan. Ngan ulah henteu digugu jangji aing. Muga-muga ulah meunang, lamun sia ngalawan perang ka aing. Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, jugjug To haan di Sunda.” Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal.

Carek Rabuyut sawal: “Sia teh saha?” Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. Eusina teh, ‘retuning bala sarewu’, anu ngandung hik mah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru.” Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh.

Rahiang Purbasora diperangan nepi ka tiwasna. Rahi ang Purbasora jadina ratu ngan tujuh taun. Diganti ku Rakean Jambri, jujuluk Rahiang Sanjaya.

Kedatangan Sanjaya kepada Jantaka seperti diuraikan diatas sebenarnya hanya untuk meminta agar dapat bertindak seba gai pemberi keadilan, namun permintaan ini membuahkan kegalauan bagi Rahyang Guru (Jantaka). Mengingat, disatu si si ia menganggap Sanjaya sebagai pewaris syah tahta Galuh disisi lain Bimaraksa, anaknya terlibat membantu Purbasora. Kisah selanjutnya Eahyang Guru memilih diam dan tidak terli bat dalam perseturan anak Sempakwaja, kakaknya dengan anak Mandiminyak, adiknya.

Kisah Sanjaya di Galuh tentunya sejaman dengan Kisah Ba langantrang, mengingat keduanya actor intelectual dari pers tiwa tersebut dan keturunan dari Wretikandayun, pendiri Ga luh, yang sedang bersebrangan.

Jika dipetakan kekuatan politis dan militer Sanjaya, tentunya pada saat itu masih unggul dibandingkan Purbasora. Sekali pun Purbasora berhasil menurunkan Sena (ayah Sanjaya) dari tampuk pimpinan Kerajaan Galuh, namun tidak dapat be gitu saja bisa menikmati kejayaannya, dan Purbasora sangat dihantui serangan Sena yang akan datang sewaktu-waktu. Untuk mempertahankan kekuasaanya, Purbasora kemudian membentuk pasukan khusus dari legiun Indraprahasta (mer tua Purbasora) yang panglimanya langsung berada dibawah Bimaraksa. Maka dalam cerita ini, Balangantrang masih memiliki eksistensi.

Sena pada waktu itu sangat bersahabat dengan Terusbawa, raja Sundapura yang memiliki legiun cukup kuat untuk menyerang Galuh. Sewaktu-waktu bias saja Sena meminta bantuan Terusbawa.

Kedua Sena cucu suami dari Parwati, penguasa Mataram dan iapun masih bersaudara dengan Dewasinga, keduanya ketu runan Kalingga. Namun Sena yang dikenal santun dan alim ini menyadari kondisi percaturan politik di Galuh yang tidak menyenangi kehadirannya. Cukup beralasan jika tidak berni at melakukan pembalasan. Lainnya dengan Sanjaya, putra Sena. Ia menganggap peristiwa ini sebagai penghinaan kepa da ayahnya. Ketika peristiwa tersebut terjadi Sena tidak ada di Galuh. Kemudian Mempersiapkan diri menuntut balas atas penghinaan kepada Sena. Namun sama halnya dengan Sena, Sajnaya pun tidak berkeinginan menjadi Raja di Galuh.

Titik kekuatan lainnya yang dimiliki Sena setelah ia menikah kan Senjaya, putranya dengan putri Terusbawa, putri mahko ta Sundapura. Sanjayapun sebelumnya dinikahkan dengan Sudiwara putri Dewasinga. Dengan demikian posisi Sanjaya ketika itu sebagai putra mahkota Mataram dari Sanaha, ibu nya; sebagai putra mahkota Galuh dari Sena, ayahnya; dan suami dari putri mahkora Sundapura. Jika diletakan dalam atlas, secara politis Sanjaya bisa menguasai 3/4 pulau jawa.

Untuk melaksanakan niatnya Sanjaya melatih pasukan khu sus di Gunung Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, yang juga sahabat baik Sena. Disisi lain Sanjaya pun dibantu pasukan sunda yang dipimpin langsung oleh Patih Anggada. Sehingga hanya dalam satu kali penyerangan dimalam hari, Purbasora dan keluarganya dibantai habis.

Dalam cerita ini memang ada yang sedikit aneh, karena Bima raksa, senapati yang sekaligus patih dari Galuh, bersama sebagian kecil pasukannya berhasil meloloskan diri, sehingga bias ditafsirkan adanya persekongkolan. Namun alasannya diuraikan dalam sejarah Jawa Barat, bahwa : Sanjaya menda pat pesan dari Sena, kecuali Purbasora, anggota keluarga Ke-raton Galuh lainnya harus tetap dihormati.

Dalam cerita ini dikisahkan pula, pasca kekalahan Purbasora, Demuwan diminta Sanjaya untuk menjadi memegang peme rintahan Galuh dibawah Sanjaya, sedangkan Bimaraksa ke mudian menetap di Geger Sunten dan menyusun kekuatan baru. Iapun lebih dikenal dengan sebutan Balangantrang, da lam sejarah lisan disebut Aki Balangantrang, penyampai be nang merah kisah Galuh kepada Ciung Wanara.

Sanjaya sebenarnya tidak memiliki ambisi untuk tinggal di Galuh, Ia pun berkeinginan menyudahi perang saudara. Seba gai orang yang taat terhadap orang tua iapun mengikuti pe san Sena untuk meminta restu dan menghormati orang-orang tua di Galuh. Langkah ini nampak dari cara Sanjaya me minta restu dari Sanjaya untuk memintakan pendapat agar Demuwan dapat diangkat sebagai “piparentaheun” pemerin tah yang mewakili kepentingan Sanjaya di Galuh.

Sempakwaja sebagai ayah dari Purbasora dan Demuwan ten tunya patut mencurigai permintaan Sanjaya. Ia berpikir : permintaan ini hanya akan menjebak Demunawan untuk kemudian dibinasakan. Ia pun tidak rela anaknya menjadi bawahan sundapura pembunuh Purbasora. ia pun masih ter ingat perjuangan Wretikandayun, ayahnya ketika membebas kan Galuh dari Sundapura. Iapun tidak lantas menolak per mintaan itu dan ia pun tidak lekas mengabulkan permintaan restu untuk mengakui Sanjaya sebagai penguasa Galuh. Na-mun Sempakwaja saja, bahwa : Sanjaya adalah pewaris sah kerajaan Galuh.

Untuk menjawab semua permintaan Sanjaya, Sempakwaja memberikan syarat dan tantangan : jika Sanjaya ingin dires tui sebagai penguasa Galuh, maka Sanjaya harus membuk tikan keunggulannya dengan cara menaklukan raja-raja di jawa tengah dan disekitar Galuh. Karena galuh bukan keraja an kecil. Galuh harus dipimpin orang yang kuat. Syarat itu pun sebenarnya ada maksudnya. Sempakwaja berniat meng hadapkan Senjaya dengan jago andalannya, Pandawa, Wulan dan Tumanggul, masing-masing raja Kuningan, kajaron dan Kalanggara.

Sempakwaja juga meminta janji Sanjaya, jika Sanjaya dapat menaklukan tiga serangkai tersebut, maka Sempakwaja akan mengikuti apa yang dimintakan Sanjaya, namun jika sebalik nya maka Sanjaya harus mengikuti kemauan Sempakwaja. Kisah ini diceritakan didalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Barang nepi ka hareupeun Dangiang Guru, carek Dangi ang Guru: “Rahiang Sanjaya! Lamun kaereh ku sia Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuning an, aing bakal nurut kana sagala ucapan sia. Da beu nang ku aing kabawah. Turut kana ucapan aing. Da aing wenang ngelehkeun, hanteu kasoran. Da aing anak dewata.”

Sebagai orang yang mentaati orang tua dan leber elmu jeung wawanena, tantangan ini pun disambut gembira oleh Sanja ya, Sanjaya pun menyiapkan pasukannya. Kisah peperangan ini diabadikan didalam Naskah Wangsakerta (Naskah Kreta bumi), isinya mengabarkan : Ketika belum menjadi raja Ga luh Sanjaya dikalahkan oleh Pandawa raja Kuningan. Kelak setelah menguasai jawa kulwan (Sunda-Galuh) dan Medang (jawa madha) dengan pasukan yang besar, Sanjaya dapat te rus memenangkan peperangan. Kekalahan Sanjaya oleh tiga serangkai tersebut mengakibatkan ia harus memenuhi janji nya untuk tunduk pada keinginan Sempakwaja. Kemudian Sempakwaja menunjuk Permana Dikusumah, putra Wijayaku sumah, cucu Purbasora untuk memegang pemerintahan San jaya di Galuh, dan Sanjaya menyetujuinya. Untuk mengontrol kekuasaan Permana Dikusumah, Sanjaya melantik Tamperan atau Barmawijaya, putranya dari sunda sebagai patih duta Sunda. Tamperan juga diberi kekuasaan untuk memim pin Garnisun sunda yang ditempatkan di Purasaba Galuh.

***

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Balangantrang dikenal juga dengan nama Bimaraksa, dalam cerita rakyat dikenal da lam kisah Ciung Wanara sebagai pasangan nini aki Balangan trang yang menemukan bayi Ciung Wanara, bayi itu ia beri nama Ciung Wanara.

Tersebutlah sepasang aki dan nini Balangantrang yang ting gal di Geger Sunten, suatu wilayah yang tidak memiliki te tangga. Karena kesepiannya si nini merindukan kehadiran anak yang konon tak kunjung tiba. Hingga pada suatu malam, si nini bermimpi kejatuhan bulan, si aki pun menafsirkan bahwa sebentar lagi ia akan mendapat rejeki. Karena profesi aki Balangantrang sebagai penangkap ikan, pada malam itu juga aki membawa “kecrik” ke kali Cintanduy. Namun tanpa diduga duga, tiba-tiba melihat ranjang bayi yang gemerlap di tepi sungai, “lir ibarat emas sinangling”. ia pun lantas meng ambil dan memeriksanya. Betapa terkejutnya ketika dibuka nampak sesosok bayi mungil yang masih hidup. Disebelah bayi tergeletak sebutir telor ayam.

Konon menurut yang empunya cerita, bayi itu lantas di “rorok” dengan penuh kasih hingga dewasa, sedangkan telur ayamnya di tetaskan hingga menjadi seekor ayam jantan. Konon pula, kelak ayam itu menjadi ayam aduan yang tang guh dan berhasil mempersembahkan mahkota.

Balangantrang mendapat kabar, bayi yang ia pelihara itu ter nyata anak raja. Aki dan Nini pun kemudian membekali pengetahuan secukupnya. Mereka pun menceritakan kepada Ciung Wanara, bahwa mereka sebenarnya bukan orang tua nya. Dan orang tua Ciung Wanara adalah seorang raja. Cerita selanjutnya dikisahkan, bagaimana Ciung Wanara memenang kan taruhan adu ayam, hingga kemudian ia menjadi raja di Galuh.

Dalam cerita lisan ini memang tidak disebutkan adanya pemi sahan batas kekuasaan Manarah dengan Haryang Banga seba gaimana yang dikenal dalam catatan sejarah resmi. Namun ada persamaan mengenai batas wilayah kekuasaanya, yakni di batasi Kali Citarum.

***

Dalam catatan sejarah, Ciung Wanara dikenal dengan nama Manarah, putra Permana Dikusumah – seorang raja “nu mi nandita” dari Pohaci Naganingrum, putri Balangantrang.

Permana Dikusumah lebih dikenal karena sikapnya yang mi nandita. Permana Dikusumah lebih senang bertapa ketim bang mengurus tahtanya. Dari sifatnya yang alim, Permana Dikusumah diberi nama Bagawan Sijalajala atau Ki Ajar Resi. Dengan demikian Manarah adalah cucu dari Bimaraksa.

Tentang Permana Dikusumah, biasanya cerita lisan sering “pacaruk” dengan cerita Mundiinglaya Dikusumah (Surawi sesa), mungkin cerita ini terbaur karena memliki nama yang sama, yakni Dikusumah, agak sulit dibedakan. Sehingga epos Sunda (Sundapura) dengan Galuh menjadi cair.

Permana Dikusumah sebenarnya bukan keturunan Mandimi nyak yang mendapat amanah menggantikan Wretikandayun, ayahnya. Ia anak Patih Wijaya Kusumah, Putra Purbasora. Memang sepintas menjadi aneh dan menimbulkan pertanya an serius bagi para akhli sejarah :”kenapa Sanjaya memilih Permana Dikusumah sebagai pemegang pemerintahan di Galuh dan Sanjaya malah tinggal di ibu kota sunda ?.

Para akhli sejarah mencari jawaban ini dari Carita Parahya ngan. Konon kabar setelah mengalahkan Purbasora, kemudi an ia mengutus patih menemui Sempakwaja. Ia meminta agar Demuwan (adik Purbasora dan anak Sempakwaja) dires tui untuk memegang pemerintahan di Galuh. Karena Sanjaya tidak memiliki ambisi untuk tinggal di Galuh, Ia ber keingi nan untuk menyudahi perang saudara. Sanjaya pun meminta restu ini karena menghormati orang-orang tua di Galuh se-suai dengan pesan Sena (ayah Sanjaya).

Sempakwaja patut mencurigai permintaan ini dan berpikir : permintaan ini hanya akan menjebak Demunawan untuk kemudian dibinasakan. Ia pun tidak rela anaknya menjadi bawahan sundapura pembunuh Purbasora. Sedang ia pun masih teringat perjuangan Wretikandayun, ayahnya ketika membebaskan Galuh dari Sundapura. Iapun tidak lantas me nolak permintaan itu dan ia pun tidak lekas mengabulkan permintaan restu untuk mengakui Sanjaya sebagai penguasa Galuh. Namun Sempakwaja saja, bahwa : Sanjaya adalah pe waris sah kerajaan Galuh.

Untuk menjawab semua permintaan Sanjaya, Sempakwaja memberikan syarat dan tantangan : jika Sanjaya ingin dires tui sebagai penguasa Galuh, maka Sanjaya harus membukti kan keunggulannya dengan cara menaklukan raja-raja di jawa tengah dan disekitar Galuh. Karena galuh bukan keraja an kecil. Galuh harus dipimpin orang yang kuat. Syarat itu pun sebenarnya ada maksudnya. Sempakwaja berniat meng hadapkan Senjaya dengan jago andalannya, Pandawa, Wulan dan Tumanggul, masing-masing raja Kuningan, kajaron dan Kalanggara.

Sempakwaja juga meminta janji Sanjaya, jika Sanjaya dapat menaklukan tiga serangkai tersebut, maka Sempakwaja akan mengikuti apa yang dimintakan Sanjaya, namun jika sebalik nya maka Sanjaya harus mengikuti kemauan Sempakwaja. Kisah ini diceritakan didalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Barang nepi ka hareupeun Dangiang Guru, carek Dangi ang Guru: Ceuk Rahiang Sanjaya! Lamun kaereh ku sia Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, aing bakal nurut kana sagala ucapan sia. Tu rut kana ucapan aing. Da aing wenang ngelehkeun, han teu kasoran. Da aing anak dewata.”

Sebagai orang yang mentaati orang tua dan leber elmu jeung wawanena, tantangan ini pun disambut gembira oleh Sanja ya, Sanjaya pun menyiapkan pasukannya. Kisah peperangan ini diabadikan didalam Naskah Wangsakerta (Naskah Kreta bumi), isinya mengabarkan : Ketika belum menjadi raja Ga luh Sanjaya dikalahkan oleh Pandawa raja Kuningan. Kelak setelah menguasai jawa kulwan (Sunda-Galuh) dan Medang (jawa madha) dengan pasukan yang besar, Sanjaya dapat terus memenangkan peperangan.

Kekalahan Sanjaya oleh tiga serangkai tersebut mengakibat kan ia harus memenuhi janjinya untuk tunduk pada keingin an Sempakwaja. Kemudian Sempakwaja menunjuk Permana Dikusumah untuk memegang pemerintahan di Galuh, dan Sanjaya pun menyetujuinya. Ending yang sama namun disaji kan dengan alasan yang berbeda, dikemukakan dalam Nas kah Wangsakerta, isinya mengabarkan : Sanjaya menjadi Ra ja Galuh Pakuan (sunda dan galuh) tetapi kerabatnya, yakni Sempakwaja dan Demuwan merasa tidak senang melihat Sanjaya menjadi penguasa sekitar Galuh, terutama melihat Galuh berada dibawah Kerajaan Sunda. Karena itu ia tinggal di ibukota sunda. Oleh karenanya Galuh dikuasakan kepada Prabu Permana Dikusumah sebagai raja bawahan sunda. Un tuk mengontrol kekuasaan Permana dikusumah, Sanjaya melantik Tamperan atau Barmawijaya, putranya dari sunda sebagai patih duta Sunda. Tamperan juga diberi kekuasaan untuk memimpin Garnisun sunda yang ditempatkan di Pura saba Galuh.

***

Telah diuraikan diatas, Permana Dikusumah sangat terkenal dengan kepanditaannya, iapun pernah menjadi raja dibawah kekuasaan Mandiminyak. Bahkan julukan resi ia terima sejak masih muda. Permana Dikusumah juga menantu Bimaraksa. Dari Naganingrum kemudian ia dikaruni anak yang diberi nama Surotama atau Manarah. Ada juga petutur yang membe rinya nama Ciung Manarah, sedangkan dalam tradisi lisan (pantun), Manarah dikenall dengan sebutan Ciung Wanara. Ia sangat disayang, kakeknya, Bimaraksa. Dari Manarah terkum pul darah keturunan Wretikandayun tulen, yakni Sempakwa ja dan Jantaka.

Pada periode kepemimpinan di Galuh, Permana Dikusumah di jodohkan dengan Dewi Pangrenyep, putri Anggada, patih Sundapura. Umurnya jauh lebih muda dari Permana Dikusu mah. Konon kabar karena beda umur ini dan hobinya Perma na Dikusumah menyebabkan Pangrenyep menjadi kesepian. Dalam cerita lain, seringnya Permana Dikusumah pergi berta pa disebabkan keengganannya mengabdi kepada Sanjaya, pembunuh kakeknya. Namun semua itu ia lakukan sesuai permintaan Sempakwaja, kakek buyutnya. Selama ditinggal kan bertapa Pangrenyep sering bertemu dengan Tamperan, patih yang masih muda dan gagah perkasa, terjadilah perse lingkuhan. Hal inipun tidak diketahui Sanjaya, mengingat Sanjaya masih terus melakukan ekspansi kenegara lain.

Hubungan gelap Tamperan kemudian melahirkan seorang anak, yang diberi nama Banga. Permana beranggapan, Mana rah tidak akan pernah menjadi Raja Galuh, karena siapapun yang dilahirkan Pangrenyep, secara resmi masih istri Perma na, dinisacayakan menjadi raja di Galuh. Sampai cerita ini, ba nyak sejarah nu pagaliwota, paling tidak penafsiran Manarah satu ayah dengan Banga, dan menganggap Permana Dikusu mah telah meninggal, sehingga perseteruan Manarah dengan Banga dianggap perebutan tahta adik dan kakak.

Peristiwa memalukan ini kemudian diketahui Sanjaya. Untuk menutup aib Sanjaya menyingkirkan Tamperan ke Pakuan. Setelah penaklukan Jawa Madha dan Jawa Pawathan, Sanjaya memutuskan untuk tinggal di Galuh. Namun tidak berlang sung lama, karena pada suatu ketika Sena meminta sanjaya menggantikannya, menjadi raja di Mataram. Permintaan ayahnya tersebut menyebabkan Senjaya sangat sulit untuk menentukan pengganti yang dapat mejadi wakilnya di Galuh. Sementara itu, Permana Dikusumah pun telah berketetapan untuk menjadi pertapa dan meninggalkan kesibukan dunia. Pada akhirnya Senjaya menunjukan Tamperan sebagai pe- nguasa Galuh.

***

Cinta terlarang tamperan dengan Pangrenyep tidak akan menumpahkan darah jika Tamperan tidak membunuh Perma na Dikusumah dipertapannya. Pembunuhan terjadi ketika Tamperan menggantikan posisi Sanjaya di Galuh, namun ia belum memiliki permaisuri. Ia memilih pangrenyep untuk menjadi istrinya. Sayangnya Pangrenyep masih istri resmi dari Permana Dikusumah, hingga iapun perlu terlebih dahulu melenyapkan Permana Dikusumah.

Setelah suruhannya berhasil membunuh Permana Dikusu mah kemudian iapun sekaligus menikahi Pangranyep dan Na ganingrum. Iapun memperlakukan Manarah seperti anaknya sendiri. Mungkin peristiwa inilah yang ditafsirkan Manarah dan Banga adik kakak satu ayah. Bahkan dalam cerita rakyat nama ayah keduanya disebut-sebut Prabu Brama Wijayakusu mah, hampir sama dengan nama Tamperan Barmawijaya.

Sekandal yang sebelumnya menjadi rahasia Tamperan pada akhirnya tercium luas dilingkungan Galuh, terdengar pula oleh Bimaraksa di Geger Sunten, pada waktu itu sedang aktif menghimpun kekuatan dengan nama Aki Balangntrang. Ia pun mendapat dukungan dari raja-raja sekitar Galuh yang berhasil ditaklukan Sanjaya. Tugas ini tidak begitu sulit dila kukan, karena sebelumnya ia dikenal sebagai senapati dan Patih Galuh yang tangguh, serta masih terhitung cucu dari Wretikandayun.

Untuk mematangkan soliditas perlawanan, Balangantrang merasa perlu menarik Manarah dipihaknya. Memang agak sulit, karena Tamperan mengakui dan memperlakukan Mana rah sebagai anaknya sendiri. Namun bagi gerakan Balangan trang, Manarah adalah simbol perlawanan Galuh, karena ia anak Permana Dikusumah yang dibunuh Tamperan. Pada akhirnya Manarah dapat diyakinkan, hingga iapun sering secara diam-diam menemui kakeknya di Geger Sunten.

Penyerbuan Manarah dan pasukan Balangantrang untuk me nguasai Galuh diatur dengan seksama. Bagi mereka masalah penguasaan teritorial kota Galuh tidak sulit dilakukan, meng ingat kesehariannya Ia hidup dilingkungan Galuh. Balangan trang merencanakan untuk melakukan penyerbuan pada si ang hari, dengan cara langsung menguasai istana, sedangkan Manarah melakukannya ditempat sabung ayam, ia akan terli bat sebagai peserta sabung ayam. Biasanya pada acara itu di hadiri pada saat para pembesar istana (termasuk Tamperan). Sehingga dengan taktik ini Balangantrang akan sangat mu dah menguasai istana. Namun dalam sejarah lisan, masyara kat Galuh lebih banyak menceritakan kisah sabung ayamnya, ketimbang penguasaan keraton oleh pasukan Balangantrang.

Upaya merebut tahta Galuh itu dilakukan pada tahun 723, dan berhasil dengan gemilang. Jika Sanjaya dahulu merebut tahta Galuh dari Purbasora dilakukan pada malam hari, na mun Manarah dengan Balangantrang melakukannya pada si ang hari.

Persitiwa ini diceritakan didalam Carita Parahyangan, cupli kannya sebagai berikut :

Sang manarah malespati. Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh. Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah. Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persem bahan.

Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana nga deg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana oge. Sang Manarah, lilana jadi ratu dalapanpuluh taun, lanta ran tabeatna hade.

Sanjaya mendengar berita kematian anaknya, dengan pasu kan besarnya menyerang purasaba Galuh. Tapi Manarah te lah mempersiapkan diri menyongsong serangan,dibantu oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta yang kerajaannya telah dibumi hanguskan Sanjaya, disampng itu ia dibantu raja-raja di daerah Kuningan yang pernah ditaklukan Sanjaya. Pengula ngan perang saudara tidak berlangsung lama karena dapat dilerai oleh Resi Demuwan. yang memaksa mereka untuk berunding.

Dari perundingan kemudian disepakati, : menyudahi permu suhan ; tidak boleh saling menyerang ; penyelesaian masalah harus dengan musyawarah ; hubungan kekerabatan tidak bo leh terputus ; harus saling menghormati hak ahli waris yang syah, yakni negeri sunda dari daerah Citarum ke barat dipim pin oleh Banga sedangkan Negeri Galuh dari Sungai Citarum ke timur dipimpin oleh Manarah. Memang patut disayang kan, bekas kerajaan Tarumanagara yang berhasil disatukan oleh Sanjaya (723 – 739) terpaksa harus terpisah kembali. Namun ketika jaman Pajajaran (Kawali dan Pakuan) wilayah ini untuk yang kedua kalinya dapat dipersatukan.

Dalam babak berikutnya Galuh diserahkan kepada Manarah dengan gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana, sedangkan Sunda diserahkan kepada Banga dengan gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya. Perundingan itu pun menetapkan status Banga menjadi raja bawahan Galuh. Namun Banga menerima keputusan ini, karena ia merasa ma sih bisa tetap hidup karena kebaikan Manarah. Sama dengan tradisi raja-raja dahulu yang kerap dilakukan, adalah meng ikat pertalian saudara melalui perkawinan. Untuk lebih mem pererat persaudaraan dan menyatukan kembali keturunan Wretikandayun, keduanya dijodohkan dengan cicit Demuna wan. Manarah dijodohkan dengan Kancanawangi dan Banga dengan Kancanasari, adik Kancanawangi.

Dari perkawinan dengan Kancanasari, manarah mempunyai beberapa orang putri, iapun kemudian diganti oleh menantu nya, Manisri, suami dari Puspasari. Karena tidak diketahui asal-usulnya, maka didalam Cerita Lutung Kasarung, Manisri dianggap sebagai Putra Sunan Ambu, sedangkan Puspasari bernama Purbasari.

Rupanya keturunan Manarah sangat sulit memperoleh anak laki-laki dan keturunan, karena ketika Linggabumi cicit dari Manarah, terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaanya kepa da Rakeryan Wuwus, raja sunda keturunan Banga, suami adiknya. Lainnya halnya dengan Banga, ia berhasil menaklu kan raja-raja disekitar Citarum, untuk kemudian iapun mele paskan dari Galuh dan menjadi negara merdeka. Hingga Sunda menjadi sederajat dengan Galuh. Iapun dikarunia ketu runan yang tidak terputus, bahkan cicit Banga, yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon, yang menjadi Raja Sunda ke-8. Diserahi menjadi raja Galuh, karena Lingga Bumi, ketu runan Manarah tidak mempunyai keturunan

Setelah perjanjian dilaksanakan, dan Balangantrang berhasil mengantar Manarah, menjadi raja di Galuh, Balangantrang kembali ke Geger Sunten. Tentunya sekarang tidak lagi perlu bersembunyi seperti ketika ia bergerilya. Tinggalah Manarah yang dibantu anak-anak muda, melanjutkan tugasnya untuk mengemban hidup dan kehidupan. Aki Balangantrang masih hidup dengan para juru pantun, sekalipun raganya sudah tak lagi ada.

Cag heula. Pamuga jaga aya nu ngorehan carita jeung bebene rana (***).

 

Agustus 15, 2012 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

Istilah Sunda

Penggunaan istilah Sunda saat ini diidentifikan dengan isti lah Jawa Barat, padahal secara histori memiliki sejarah yang berbeda. Kedua istilah tersebut mengalami perubahan pe ngertian dan penafsiran, sehingga sering terjadi kekeliruan dan keragu-raguan dalam penggunaannya, terutama ketika istilah Sunda hanya dikonotasikan politis, dianggap sukuis me, sehingga terpaksa istilah Sunda dalam pergaulan sosial dan budaya harus diganti dengan sebutan Jawa Barat.

Secara etimologis (asal usul kata) menurut Bern Notho-ver didalam Roza Mintaredja (2006) Kata Sunda bere dar sejak 4.000 SM yang lalu. Menurut filolog (ilmu ba hasa yang berkaitan dengan kebudayaan) dikenal proto mela yu yang diakui paling tua di Asia, namun ternyata lebih muda daripada Proto Soendoto Soendic (Sunda) ribuan tahun

Istilah Sunda dalam catatan masa lalu diterapkan untuk me nyebutkan suatu kawasan, atau gugusan kepulauan yang ter letak diwilayah lautan Hindia Sebelah Barat (Sunda besar dan Sunda kecil), bahkan istilah Sunda digunakan untuk me nunjukan gugusan kepulauan tersebut didalam peta dunia, kecuali di Indonesia. Istilah Sunda ditemukan pula di dalam prasasti dan naskah sejarah, digunakan untuk menyebutkan batas budaya dan kerajaan, bahkan bukan hanya terbatas di dalam yuridiksi penerintahan Jawa Barat saat ini, melainkan jauh kewilayah Jawa Tengah, didalam Catatan Bujangga Ma nik (abad ke-16) disebut Tungtung Sunda.

Menurut Edi S. Ekadjati dalam pidato pengukuhan jabatan gu ru besarnya yang berjudul Sunda, Nusantara, dan Indonesia Suatu Tinjauan Sejarah (1995:3–4) memaparkan bahwa: Secara historis, Ptolemaeus, ahli ilmu bumi bangsa Yunani, merupakan orang pertama yang menyebut Sunda sebagai na ma tempat. Dalam buku karangannya yang ditulis sekitar ta hun 150 Masehi ia menyebutkan bahwa ada tiga pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India (Atma mihardja, 1958: 8). Kiranya berdasarkan informasi dari Pto lemaeus inilah, ahli-ahli ilmu bumi Eropa kemudian menggu nakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pu lau yang terletak di sebelah timur India. Hal yang sama diung kapkan oleh seorang ahli geologi Belanda R.W. van Bemme-len menjelaskan bahwa Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai suatu daratan bagian barat laut India Timur, sedangkan dataran bagian tenggaranya di na mai Sahul. 

***

Dataran-Kepulauan Sundabagi masyarakat yang menge nyam pendidikan pada medio 1960 an masih ditemukan didalam mata ajar Ilmu Bumi, suatu istilah yang menunjukan gugusan kepulauan yang disebut Sunda Besar dan Sunda Ke-cil.

Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang me lingkar (Circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya se kitar 7000 km. Dataran Sunda itu terdiri dari dua bagian uta ma, yaitu (1) bagian utara yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Pasifik bagian ba rat dan (2) bagian selatan yang terbentang dari barat ke ti mur sejak Lembah Brahmaputera di Assam (India) hingga Maluku bagian selatan. Dataran Sunda itu bersambung deng an kawasan sistem Gunung Himalaya di barat dan dataran Sa hul di timur (Bemmelen, 1949: 2-3).

Selanjutnya, sejumlah pulau yang kemudian terbentuk di da taran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda pula, yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil. Kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau yang be rukuran besar yang terdiri atas pulau-pulau: Sumatera, Jawa, Madura, dan Kalimantan. Adapun Kepulauan Sunda Kecil me rupakan gugusan pulau-pulau: Bali, Lombok, Sumbawa, Flo res, Sumba, Timor (Bemmelen, 1949: 15-16). Namun kemudi an istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil tidak dipakai lagi da lam percaturan ilmu bumi Indonesia.

Pendapat diatas tentunya mendekati paradigma masyarakat saat ini yang sedang mencari jejak Benua Antlantis, seperti Stephen Oppenheimer, seorang Profesor dari Universitas Oxford dan Arysio Santios, Profesor dari Brazil. Konon berda sarkan penemuan para ahli Amerika dan Jepang, yang menga cu pada ciri ciri kehidupan dan genetika manusianya, benua tersebut berada diwilayah yang saat ini disebut dataran Sunda. Didaerah ini pun ditemukan jejak arkeolog peningga lan prasejarah, seperti Situs Gunung Padang yang berada dibeberapa tempat, seperti Cianjur dan Ciwidey. Beluim lagi penemuan di Bukit Dago dan Gunung Masigit. Terakhir digu nung lalakon.

Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya berjudul ‘Eden in The East’ di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pu sat, Kamis 28 Oktober 2010, menyebutkan, bahwa : Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia mo dern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, nenek moyang dari induk peradaban manusia mo dern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut deng an Sundaland atau Indonesia. Apa buktinya? “Peradaban agri kultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia. Dalam perjalanan yang dilakukannya, Oppenhe imer dimulai dengan komentar tanpa sengaja di sebuah desa zaman batu di Papua Nugini. Dari situ dia mendapati kisah pe ngusiran petani dan pelaut di pantai Asia Tenggara, yang di ikuti serangkaian banjir pasca-sungai es hingga mengarah pa da perkembangan budaya di seluruh Eurasia. Oppenheimer meyakini temuan-temuannya itu, dan menyimpulkan bahwa benih dari budaya maju, ada di Indonesia. Buku ini mengu bah secara radikal pandangan tentang prasejarah.

Pada akhir Zaman Es, banjir besar yang diceritakan dalam kitab suci berbagai agama benar-benar terjadi dan meneng gelamkan paparan benua Asia Tenggara untuk selamanya. Hal itu yang menyebabkan penyebaran populasi dan tumbuh suburnya berbagai budaya Neolitikum di Cina, India, Mesopo tamia, Mesir dan Mediterania Timur. Akar permasalahan dari pemekaran besar peradaban di wilayah subur di Timur De-kat Kuno, berada di garis-garis pantai Asia Tenggara yang terbenam. “Indonesia telah melakukan aktivitas pelayaran, memancing, menanam jauh sebelum orang lain melakukan nya.” Oppenheimer mengungkapkan bahwa orang-orang Poli nesia (penghuni Benua Amerika) tidak datang dari Cina, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara. Sementara penanaman be ras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu.

Pendapat ini tentunya menuai tanggapan dari berbagai pihak  dari yang mendukung sampai dengan yang tidak percaya, bahkan banyak pula para akhli Indonesia maupun para In donesianis menyangkal pendapatnya. Persoalannya sekarang mampukah kita menemukan jawaban atas pencarian terse but, atau hanya ‘bakutet’ seperti “monyet ngagugulung kala pa ?”. Jika dikelak kemudian hari pertanyaan tersebut ter jawabkan, tentunya akan mampu merubah peta kesejarahan dunia.

***

Beberapa Pengertian Sundamenurut Rouffaer (1905: 16), bahwa kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing ber kebudayaan Hindu, kemungkin an dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pe ngertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eri nga, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, su ci, murbi, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, was pada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).

Menurut Gonda (1973: 345-346), pada mulanya kata sud-dha dalam bahasa Sansekerta digunakan untuk menyebut kan sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pu lau Jawa, dari jauh tampak putih bercahaya karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung tersebut. Gunung Sunda itu terletak di sebelah barat Gunung Tangkuban Para hu. Kemudian nama tersebut diterapkan pula pada wilayah tempat gunung itu berada dan penduduknya. Mungkin sekali pemberian nama Sunda bagi wilayah bagian barat Pulau Ja wa terinspirasi oleh nama sebuah kota dan atau kerajaan di India yang terletak di pesisir barat India antara kota pelabu han Goa dan Karwar (ENI, IV, 1921: 14-15). Selanjutnya, Sunda dijadikan nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa yang beribukota di Pakuan Pajajaran, sekitar Kota Bogor se karang. Kerajaan Sunda ini telah diketahui berdiri pada abad ke-7 Masehi dan berakhir pada tahun 1579 Masehi (Danasas mita dkk, 1984: 1-27; Danasasmita dkk, IV, 1984; Djajadi niningrat, 1913: 75).

R. Mamun Atmamihardja, dalam bukunya Sejarah Sunda I (1956) mencatat beberapa arti yang didasarkan pada berba gai kamus bahasa, yaitu :

Sanksakerta

:

-      Sopan, bersinar, terang, putih;

 

 

-      Nama Dewa Wisnu;

 

 

-      Ksatriya Buta (daitya) dalam cerita Upa Sunda dan Ni Sunda

 

 

-        Ksatriya Wanara dalam cerita Ramayana

 

 

-        Nama Gunung di Bandung Utara

Kawi

:

-        Air, tumpukan, pangkat, waspada

J a w a

:

-        Bersatu; penyusun; dua (nama chandrasang kala)

 

 

-        Unda – naik; Unda – terbang.

Sunda

:

-        Saunda atau Saundana Lumbung Padi

 

 

-        Sonda – bagus; indah; menyenangkan;

 

 

-        Sonda – terkenal

 

 

-        Sonda – laki laki tampan

 

 

-        Sundara – nama Dewa Kamajaya

 

 

-        Sundari – perempuan cantik

***

Didalam Prasasti dan Naskah Kuna, khususnya di bi-dang sejarah menurut Ekadjati (hal.2) : istilah Sunda yang menunjukan pengertian wilayah di bagian barat Pulau Jawa dengan segala akitivitas kehidupan manusia didalamnya, muncul untuk pertama kalinya pada abad ke-9 Masehi. Isti lah tersebut tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Ke bon Kopi, Bogor beraksara Jawa Kuna dan berbahasa Melayu Kuna. Bahwa terjadi peristiwa untuk mengembalikan kekua saan prahajian Sunda pada tahun 854 Masehi. Pada waktu itu sudah diketahui adanya suatu wilayah yang memiliki pengua sa yang diberi nama Prahajian Sunda. Ada juga yang menye butkan istilah ini telah dimuat dalam Prasasti Kabantenan. Prasasti tersebut menjelaskan tentang suatu daerah yang disebut Sundasembawa.

Data lain yang menyebutkan tentang istilah Sunda ditemu kan pula, dengan penjelasan: “pemerintahan Suryawarman meninggalkan sebuah prasasti batu yang ditemukan di kam pung Pasir Muara (Cibungbulang) di tepi sawah kira-kira 1 kilometer dari prasasti telapak gajah peninggalan Purnawar man. Prasasti ini berisi inskripsi sebanyak 4 baris. Bacaannya (menurut Bosch) ;

  • ini sabdakalanda juru pangambat i kawihaji panyca pasagi marsandeca barpulihkan haji sunda. (Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pangambat dalam [tahun Saka] 458 [bahwa] pemerintahan daerah dipulihkan kepada raja Sunda”.

Suryawarman di dalam sejarah tatar Pasundan tercatat seba gai raja Tarumanagara ketujuh. Diperkirakan memerintah pa da tahun 457 sampai dengan tahun 483 Saka, bertepatan de ngan tahun 536 sampai dengan tahun 561 masehi, sedang kan tahun 458 Saka bertepatan dengan 536 masehi atau abad ke enam masehi. Sampai saat ini tidak kurang dari 20 buah jumlah prasasti yang ditemukan di wilayah Jawa Barat sekarang.

Prasasti dimaksud menurut waktunya dapat dikelompokan menjadi :

(1) prasasti Tarumanagara

(2) Sunda

(3) Rumantak

(4) Kawali

(5) Pakuan Pajajaran.

Nama-nama raja yang tertulis dalam prasasti tersebut yakni :

(1) Rajadiraja Guru

(2) Purnawarman

(3) Haji (raja) Sunda

(4) Sri Jayabupati

(5) Batari Hyang

(6) Prabu Raja Wastu – Niskala Wastu Kencana

(7) Ningrat Kencana (Dewa Niskala)

(8) Prabu Guru Dewataprana (Sri Baduga Maharaja).

Kisah yang dimaksudkan Ekadjati tersebut sama dengan yang dimaksud Pleyte (1914), kisah berdirinya kerajaan Sun da terdapat dalam naskah Kuna dan berbahasa Sunda Kuna. Pendiri dari kerajaan Sunda adalah Terusbawa. Sedangkan eksistensinya ditemukan dalam naskah Nagarakretabhumi (sumber sekunder), yang menjelaskan Terusbawa memerin tah pada tahun 591 sampai dengan 645 Saka, bertepatan dengan tahun 669/670 sampai dengan 723/724 Masehi.

Kisah berdirinya Sunda sebagai nama kerajaan di dalam Pus taka Jawadwipa I sarga 3 dikisahkan, sebagai berikut :

  • Telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning rajya Taruma. Tekwan ring usana kang ken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwapras tawa saking Bharatanagari. 
  • (Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama (kota) Sundapura. Nama ini berasal dari negeri India).

Prasasti tersebut menunjukan bahwa pada masa Tarumana garapun kerajaan Sunda sudah ada, sekalipun mungkin ha nya sebagai negara bagian dari Tarumanaga, atau wilayah ter sendiri, mengingat Tarumanagara didirikan oleh kaum penda tang dari India.

Generasi muda sekarang lebih memahami batas sunda bagi an timur adalah Cirebon. Penafsiran demikian tidak dapat di salahkan, mengingat pada masa Belanda yuridiksi Propinsi Ja wa Barat dibatasi hanya sampai Cirebon. Ekadjati dalam tuli sannya tentang Sajarah Sunda mengemukakan, bahwa :

  • Tanah Sunda perenahna di beulah kulon hiji pulo anu ayeuna jenenganana Pulo Jawa. Ku kituna eta weweng kon disebut oge Jawa Kulon. Ceuk urang Walanda mah West Java. Sacara formal istilah West Java digunakeun ti mimiti taun 1925, nalika pamarentah kolonial nga degkeun pamarentah daerah anu statusna otonom sarta make ngaran Provincie West Java. Timimiti za man Republik Indonesia (1945) eta ngaran propinsi anu make basa Walanda teh diganti ku basa Indonesia jadi Propinsi Jawa Barat’.

Wilayah Tarumanagara pada masa Purnawarman membawa hi 46 kerajaan daerah. Jika dibentangkan dalam peta daerah tersebut meliputi jawa bagian barat (Banten hingga Kali Sera yu dan Kali Brebes Jawa Tengah). Paska pemisahan Galuh secara praktis kerajaan Sunda terbagi dua, sebelah barat Su ngai Citarum dikuasai Sunda (Terusbawa) dan sebelah Su ngai Citarum bagian timur dikuasai Galuh (Wretikandayun). Penyatuan kembali Sunda dengan Galuh dimasa lalu terjadi beberapa kali, seperti pada masa Sanjaya, Manarah, Niskala Wastu Kancana dan Sri Baduga Maharaja.

Untuk menyelusuri batas budaya, ada beberapa versi yang dapat diacu : Pertama, berdasarkan Naskah Bujangga Manik, yang mencatatkan perjalanannya pada abad ke-16, mengun jungi tempat-tempat suci di Pulau Jawa dan Bali, naskah ter sebut diakui sebagai naskah primer, saat ini disimpan di Per pustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (kali Brebes) dan sungai Ciserayu (Kali Serayu) Ja wa Tengah. Dalam catatan Bujangga Manik disebutkan deng an isitilah Tungtung Sunda, bahkan menurut Wangsakerta, : wilayah kerajaan Sunda mencakup beberapa daerah Lam pung. Hal ini terjadi pasca pernikahan antara keluarga kera jaan Sunda dan Lampung. Hanya saja Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Disisi lain nya. Sunda memang tidak membentuk kerajaannya sebagai kerajaan Maritim.

Kedua, menurut Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanan nya, yang kemudian dibukukan dalam suatu judul  Summa Oriental, menyebutkan batas wilayah kerajaan Sunda : ada juga yang menegaskan, kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa kerajaan Sunda mencakup sepertiga pulau Jawa ditambah seperdela pannya lagi. Keliling pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Cimanuk.

***

Kerajaan Sundadi dalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (RPMSJB) nampaknya dibatasi se jak Maharaja Terusbawa sampai dengan Citraganda, atau se jak tahun 669 M sampai dengan tahun 1311 M. Hal ini dapat dipahami mengingat pembahasan kerajaan-kerajaan yang ada di tatar Sunda  diuraikan tersendiri, seperti Sunda, Ga-luh, Kawali dan Pajajaran.

Pembahasan kesejarahan ini jauh lebih luas dibandingkan de ngan paradigma masyarakat tradisional yang selalu mengait kan Sunda dengan simbol-simbol Pajajaran, atau kerajaan Sunda terakhir. Jika budaya Sunda hanya dipahami hanya se batas Pajajaran, dengan satu-satunya raja yang terkenal, yak ni Prabu Silihwangi, maka masyarakat ditatar Sunda akan berpotensi untuk makin kehilangan jejak kesejarahannya. Masalahnya adalah, mampukah masyarakat Sunda merubah paradigmanya untuk melemparkan kemasa yang lebih jauh kebelakang melebihi jejak Pajajaran dan Siliwanginya ?.

Sebutan Sunda untuk nama kerajaan di Tatar Sunda yang me ngambil dari garis keturunan Terusbawa agak kurang tepat jika dikaitkan dengan kesejarahan Sunda yang sebenarnya. Istilah Sunda sudah dikenal sebelum digunakan oleh Terus bawa, bahkan prasasti Pasir Muara yang menunjukan tahun 458 Saka (536 M) telah menyebutkan adanya raja Sunda. Secara logika sangat wajar jika ditafsirkan bahwa istilah Sun da sudah digunakan sebelum tahun tersebut, karena prasasti dimaksud tentunya tidak dibuat langsung bertepatan dengan istilah Sunda ditemukan. Dan prasasti tersebut tidak menan dakan dimulainya entitas Sunda, namun hanya menerang kan, bahwa memang telah ada penguasa Sunda yang berkua sa pada waktu itu.

Istilah Tarumanagara dimungkinkan diterapkan untuk nama kerajaan Sunda yang berada di tepi kali Citarum. Menurut be berapa versi, istilah Sunda digunakan ketika Ibukota Taru managara dipindahkan ke wilayah Bogor. Jika saja ada kaitan nya antara Tarumanagara dengan Salakanagara, kemungki nan besar istilah Sunda juga sudah digunakan untuk nama ke rajaan daerah atau jejak budaya manusia yang ada di dataran Sunda.

Istilah Sunda (Sundapura) sebelumnya pernah digunakan oleh Purnawarman sebagai pusat pemerintahan. Tarumana gara berakhir pasca wafatnya Linggawarman (669 M). Terus bawa adalah menantu Linggawarman menikah dengan Dewi Manasih, putrinya. Tarusbawa dinobatkan dengan nama Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggalajaya Sundasembawa. Dari sini para penulis sejarah Sunda pada umum nya mencatat dimulainya penggunaan nama kerajaan Sunda

Instilah Sunda (Sundapura atau Sundasembawa) sebelumnya pernah digunakan oleh Purnawarman sebagai pusat peme rintahan. Sundapura adalah salah satu kota yang terletak di wilayah Tarumanagara. Dari Sundapura Purnawarman me merintah dan mengendalikan Tarumanagara, dan di Sundapu ra Tarumanagara mencapai masa keemasanya. Tarumana gara berakhir pasca wafatnya Linggawarman (669 M). digan tikan oleh Terusbawa, menantunya, menikah dengan putri Linggawarman, Dewi Manasih. Tarusbawa dinobatkan deng an nama Maharaja Tarusbawa Darmawas kita Manunggala jaya Sundasembawa. Dari sinilah para penulis sejarah menca tat dimulainya kerajaan Sunda.

***

Letak Sundapura jika dikaitkan dengan prasasti Kampung Muara dan Prasasti Kebantenan menimbulkan pertanyaan. Karena bisa ditafsirkan, perpindahan ibukota Taruma dari Sundapura telah terjadi sejak masa Suryawarman. Prasasti tersebut menurut Saleh Danasasmita dibuat pada tahun 584, masa Tarumanagara, namun menurut para akhli lainnya di buat tahun 854, menunjukan pada masa Kerajaan Sunda. Letak prasasti Muara dahulu termasuk berada diwilayah ke rajaan Pasir Muara, raja daerah bawahan Tarumanagara. Pa sir Muara kemudian berada dibawah daulat kerajaan Sunda. Namun suatu hal yang paling mungkin prasasti tersebut pe-ninggalan masa Tarumanagara.

Didalam Pustaka Jawadwipa diterangkan mengenai lokasi Sundapura, : 

telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning tajyua Taruma. Tekwan ring usana kang ken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwa prasta wa saking Bratanagari. (dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan Tarumanaga. Pada masa lalu diberi nama Sundapura. Nama ini berasal dari nege ri Bharata).

Istilah Sunda didalam alur cerita kesejarahan resmi sejak Tarusbawa memindahkan pusat pemerintahan ke Sundapu ra, pada tahun 669 M atau tahun 591 Caka Sunda. Pada masa  itu kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tah ta Linggawar man pada tahun 669 M kepada Tarusbawa. Beri ta ini disampaikan kesegenap negara sahabat dan bawahan Tarumanagara. Demikian juga terhadap negara, seperti Cina, Terusbawa mengirimkan utusan bahwa ia pengganti Lingga warman. Sehingga pada tahun 669 M dianggap sebagai lahir nya Kerajaan Sunda.

Perpindahan dan pembangunan istana Sunda dikisahkan oleh penulis Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut  :

Diinyana urut Kadatwan, ku Bujangga Sedamanah nga ran Kadat wan Bima–Punta– Narayana–Madura–Sura dipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarus bawa denung Bujangga Sedamanah. (Disanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima-Punta – Narayana – Madura – Suradipa ti. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah.).

Berita yang layak dijadikan bahan kajian tentang pembangun an istana yang dilakukan Tarusbawa juga tercantum di dalam Pustaka Nusantara II/3 halaman 204/205, isinya :

”Hana pwanung mangadegakna Pakwan Pajajaran la wan Kadtwan Sang Bima-Punta-Narayanan-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabu Tarusbawa”. (Adapun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bi ma–Punta–Narayana–Madura-Suradipati adalah Maha raja Tarusbawa)

Istana sebagai pusat pemerintahan terus digunakan oleh raja-raja Sunda Pajajaran atau Pakuan Pajajaran. Istilah Pakuan Pajajaran menurut Purbatjaraka (1921) berarti istana yang berjajar Nama istana tersebut cukup panjang, tetapi berdiri masing-masing, dengan nama nya sendiri, secara berurutan disebut Bima–Punta–Narayana-Madura-Suradipati (bangunan keraton). Ba ngunan Keraton tersebut sama dengan yang dilaporkan oleh Gubernur Jendral Camphuijs, tanggal 23 Desember 1687 kepada atasan nya di Amsterdam. Laporan diatas mendasarkan pada penemuan Sersan Scipio, pada tang gal 1 September 1697, tentang penemuan pusat Keraja an Pajajaran pasca dihancurkan pasukan gabungan Ban ten dan Cirebon.

Laporan Scipio menyebutkan :

Dat hetselve paleijs specialijck de verhaven zitplaets van den Javaense Coning Padzia Dziarum nu nog gedui zig door een groot getal tiigers bewaakt en bewaart wort.

(bahwa istana tersebut. dan terutama tempat du duk yang ditinggikan–sitinggil–kepunyaan raja “Jawa” Paja jaran, sekarang ini masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat  oleh sejumlah besar harimau).

Istilah Pakuan Pajajaran, atau Pakuan atau Pajajaran saja di temukan pula di dalam Prasasti tembaga di Bekasi. Urang Sunda kemudian terbiasa dengan menyebut nama Pakuan untuk ibukota Kerajaan dan nama Pajajaran untuk negara nya. Sama dengan istilah Ngayogyakarta Hadiningrat dan Su rakarta Hadiningrat yang nama-nama keraton tersebut kemu dian digunakan untuk nama ibukota dan wilayahnya.

***

Perpindahan Ibukotapemerintahan ke Sundapura memi liki alasan, bukan karena Sundapura adalah daerah asal Te rusbawa, melainkan erat kaitannya dengan masalah pemerin tahan. Terusbawa menginginkan kembalinya kejayaan Taru managa ra sebagai mana pada masa Purnawarman, yang me mindah kan ibukota Tarumanagara ke Sundapura. Namun tidak mem perhitungkan akibat politis dari pemindahan ibu kota.

Pada saat itu kondisi Tarumanagara sudah tidak sekuat masa lalu. Tarumanagara pasca meninggalnya Purnawarman pa mornya sudah mulai turun di mata raja-raja daerah, teruta ma pasca kekacauan yang terjadi diintern istana. Banyak ra ja-raja daerah yang melakukan pembangkangan, terutama yang berada di wilayah sebelah timur Citarum. Disisi lain na ma Sriwijaya dan Kalingga sudah mulai naik pamornya seba gai pesaing Tarumanagara. Dengan pertimbangan ini Wre tikandayun menyatakan Galuh membebaskan diri dari Sun da. Sejak saat itu ditatar Sunda muncul dua kerajaan kembar, yakni Sunda dan Galuh. Perbedaan Sunda dengan Galuh bu kan hanya menyangkut masalah pemerintahan, bahkan buda yanya.

Menurut Saleh Danasasmita, Sunda dengan Galuh me miliki entitas yang mandiri dan ada perbedaan tradisi yang mendasar. Hal yang sama dikemukakan Prof. Anwas Adiwi laga, menurutnya Urang Galuh adalah Urang Cai sedangkan Urang Sunda disebut sebagai Urang Gunung. Mayat Urang Galuh ditereb atau dilarung, sedangkan mayat Urang Sunda dikurebkeun. Penyatu an tradisi tersebut diperkirakan baru tercapai pada abad ke-13, dengan mengistilahkan penduduk dibagian barat dan timur Citarum (citarum = batas alam Sun da dan Galuh) dengan sebutan “Urang Sunda”. Sebutan terse but bukan hasil kesepakatan para penguasanya, melainkan muncul dengan sendirinya.

Pasca ditemukannya Prasasti Kawali 1, para ahli sejarah Sun da Kuna pada umumnya berpebdapat, bahwa : “Dengan demi kian pengertian Galuh dan Sunda antara 1333 – 1482 Masehi harus dihubungkan dengan Kawali (ibukota Sunda dengan Galuh pasca bergabung kembali) walaupun di Pakuan ada penguasa daerah. Keraton Galuh sudah ditinggalkan atau fungsinya sebagai tempat kedudukan pemerintah pusat su dah berakhir. Sedangkan Kerajaan Sunda Pra Kawali disebut-sebut hingga masa pemerintahan Citraganda.

***

istilah Jawa Baratuntuk menyebtukan sebagian wilayah Sunda berasal dari pemerintah Hindia Belanda, terjemaahan dari istilah West Java, muali muncul pada abad ke-19, tatkala Pulau Jawa telah dikuasai penuh oleh Belanda. Untuk keperlu an administrasi dan militer Belanda perlu membagi Pulau Ja wa kedalam beberapa bagian. Pada akhirnya Belanda mem bagi tiga daerah militer, yaitu Daerah Militer West Java, Dae rah Militer II Midden Java, dan Daerah Militer III Oost Java.

Penggunaan istilah West Java secara resmi digunakan pada tahun 1925, ketika itu dibentuk Province West Java, sedang kan Province Midden Jawa dan Oost Java dilakukan pada tahun 1926. Dari sejarah masa lalu orang Sunda mengingin kan menggunakan istilah Sunda untuk provinsi yang berada di Jawa Barat (Ekadjati, 2005, hal. 11). Upaya tersebut nam pak dimasa lalu. Pertama, menyosialisasikan kepada masya rakat Pasundan tentang konsekwensi dibentuknya provinsi itu, secara lisan maupun diwartakan di mass media. Kedua, mengajukan permohonan kepada pemerintahan kolonial Hin dia Belanda, agar nama provinsi ini disebut Pasundan, beribu kota di Bandung. Permohonan tersebut dipenuhi dan dike luarkan penetapan tentang pembentukan provinsi Pasundan, sebagaimana dimuat dalam Sttatsblad no. 25 dan 378 tahun 1925). Isi staatsblad tersebut menyatakan, bahwa ….. West Java, in inheemsche talen aan te duiden als Pasoendan ….” (Jawa Barat, dalam bahasa orang pribumi (bahasa Sunda) me nunjuk sebagai Pasundan. Namun mengenai ibukotanya ma sih tetap menunjuk Provincie West Java beribukota di Bata via. Pada saat mewujudkan konsep negara federal di Indo nesia (1948-1949), nama negara bagian yang telah di persiap kan bernama Pasundan, sekalipun pada saat persiapannya bernama Jawa Barat. Ketiga, Kongres Pemuda Sunda (1956) mengeluarkan pernyataan (proklamasi), bahwa nama Jawa Barat diganti dengan nama Sunda. Sebagai konsekwensinya nama Jawa Tengah menjadi nama Jawa Barat, sedangkan na ma Pulau Jawa diganti dengan nama Nusa Selatan.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku, sejak tahun 1925 dan pasca Kemerdekaan, nama Provinsi Jawa Barat masih te tap digunakan untuk wilayah Pulau Jawa Bagian Barat, akan tetapi lama kelamaan perkembangan di masyarakat dan kar ya-karya tulisan juga menggunakan istilah nama Jawa Barat, sehingga menjadi nama resmi. Istilah Sunda pada akhirnya hanya digunakan untuk menunjukan orang dan bu daya yang ada di Pulau Jawa Bagian Barat. Jika saja nama Sunda digu nakan untuk menunujuk wilayah, maka hanya di tujukan un tuk kondisi wilayah di masa lalu, atau batas budaya.

Istilah Sunda dalam catatan masa lalu diterapkan untuk me-nyebutkan suatu kawasan, yakni Sunda besar dan Sunda ke cil, sedangkan didalam prasasti dan naskah sejarah diguna kan untuk menyebutkan batas budaya dan kerajaannya. Ba-tas wilayah Sunda (Pasundan) didalam Catatan Bujangga Ma nik (abad 16) disebut pamanna sunda atau tungtung Sunda. Batas yang melampaui yuridiksi Jawa Barat sekarang, yakni di timur sampai dengan Cipamali. (***)

Agustus 15, 2012 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Keraton Sri Bima Punta Narayanan Madura Suradipatu

Didalam naskah Sunda Kuna, seperti Carita Parahyangan disebutkan adanya bangunan keraton kerajaan Sunda yang disebut Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Menurut Poerbatjaraka kata Pakuan-Pajajaran yang sering disebut-sebut dalam berbagai sumber sejarah Sunda kuna, bukan dari kata pohon paku (pakis) yang berdiri sejajar di pusat kerajaan itu, sebagaimana yang dikemukakan oleh K.F. Holle (1869), atau berarti titik pusat alam (poros dunia) seperti yang dikemukakan oleh G.P.Rouffaer (1919). Tafsiran Poerbatjaraka tentang Pakuan Pajajaran adalah ”de aan rijen staande hoven” (bangunan istana yang berjajar). Menurutnya kata Pakuan sangat mungkin  pakuwan atau pakuwon, kata ini masih bertahanàberasal dari kata pa + kuwu + an  dalam bahasa Jawa pantura sekarang, berasal dari kata akuwu atau kuwu yang berarti pemimpin daerah tertentu (Poerbatjaraka 1921: 401). Dengan demikian nama keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati seharusnya berwujud 5 bangunan keraton yang berdiri berjajar.

Pendapat Poerbatjaraka tersebut meninggalkan masalah yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dalam bidang arkeologi. Mengenai pendapat Poerbatjaraka itu, Ayatrohaedi melanjutkan: ”Barangkali keraton induk terletak di tengah jajaran itu, walaupun memang terbuka kemungkinan bahwa bangunan induk itu terletak paling ujung (depan ataupun belakang), jika kita mengingat bahwa namanya selalu disebutkan sebagai unsur terakhir dari kompleks bangunan keraton itu” (Ayatrohaedi 1978: 52).

Agaknya tafsiran Ayatrohaedi yang menyatakan bahwa bangunan Suradipati tersebut merupakan bangunan induknya, dapat diterima, mengingat bangunan-bangunan keraton lama lainnya juga mempunyai unsur kata sura, misalnya Surawisesa adalah keraton kerajaan Sunda di Kawali, Surasowan nama bagi keraton kesultanan Banten, dan Surakarta adalah nama tempat tinggal penguasa Jayakarta sebelum dikuasai VOC Belanda. Kemudian dipertanyakan juga oleh Ayatrohaedi mengenai arah hadap bangunan-bangunan keraton yang berjajar itu. Menurutnya berdasarkan uraian cerita-cerita pantun Sunda, besar kemungkinan jika jajaran itu membujur dari utara-selatan, bukannya melintang dari barat ke timur (1978: 52). Penafsiran tersebut agaknya didasarkan pada kisah-kisah pantun, data peninggalan arkeologi, interpretasi atas laporan perjalanan orang-orang Belanda dan juga berdasarkan perbandingan struktur bagian-bagian keraton dari masa perkembangan Islam di Nusantara.

Berawal dari pendapat Poerbatjaraka tentang adanya 5 bangunan keraton yang berjajar, maka kajian arkeologi mendapat peluang untuk menafsirkan lebih jauh lagi perihal keraton tersebut. Saleh Danasasmita dalam laporan penelitiannya tahun 1979 yang berjudul ”Lokasi Gerbang Pakuan dan Rekonstruksi Batas-batas kota Pakuan Berdasarkan Laporan Perjalanan Abraham van Riebeeck dan Ekspedisi VOC lainnya (1687—1709)” menyatakan bahwa kompleks keraton Pakuan-Pajajaran terletak di kota Bogor sekarang, di utara kompleks keraton terdapat tanah lapang luas (alun-alun) dan sangat mungkin bangunan-bangunan keraton tersebut berderet menghadap ke utara. Laporan Danasasmita itu kemudian dicetak dalam buku Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian lainnya Mengenai Budaya Sunda (2006), dalam buku itu dinyatakan lebih lanjut bahwa sangat mungkin setiap bangunan keraton mempunyai fungsi yang berbeda-beda sebagai berikut, (1) bangunan Bima adalah balai peperangan, (2) Punta sebagai balai pengadilan, (3) Narayana sebagai balai penghadapan, (4) Madura adalah balai Resepsi, dan (5) Suradipati adalah bangunan persemayaman raja dan keluarganya, kelima bangunan itu yang sering juga disebut dengan Panca Prasadha (Danasasmita 2006: 31).

Tafsiran tentang keraton Pakuwan-Pajajaran juga pernah dilakukan oleh Agus Aris Munandar (1994) berdasarkan perbandingan dengan penataan keraton Kasepuhan Cirebon. Keraton Kasepuhan menjadi pembanding didasarkan pada argumen bahwa menurut berita tradisi para penguasa Cirebon sebenarnya masih keturunan raja Siliwangi dari Sunda, dan nama keraton Pakuan-Pajajaran juga dikenal dalam kitab Purwaka Caruban Nagari dengan sebutan sang Bima. Artinya kemungkinan besar keraton Pakuwan-Pajajaran dijadikan acuan ketika para penguasa Cirebon mendirikan bangunan keratonnya terutama yang agak tua, yaitu keraton Kasepuhan (Munandar 1994: 100). Sependapat dengan Danasasmita dan Ayatrohaedi bahwa memang kompleks keraton Pakuwan-Pajajaran dahulu terletak di kota Bogor, kompleks tersebut menghadap utara, ke arah alun-alun (buruan), dan di latar belakangnya berdiri Gunung Salak dengan kelima puncaknya. Bangunan paling depan adalah Bima, lalu berturut-turut Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati.

Adapun fungsi bangunan tersebut masing-masing sangat mungkin sebagai berikut, (1) Bima dapat dibandingkan dengan bangunan sitinggil di keraton kasepuhan, yaitu sebagai tempat para penjaga dan tempat bersemayamnya sultan ketika melihat aktivitas yang dilaksanakan di alun-laun depan kompleks keraton. Wujud bangunan Bima sangat mungkin tinggi atau berdiri pada lahan yang ditinggikan sebagaimana sitinggil (tanah yang ditinggikan) pada komplek Kasepuhan. (2) Punta adalah gelar bangsawan tinggi, mungkin bangunan ini adalah tempat berkumpulnya para pejabat tinggi kerajaan sebelum diterima oleh raja, sebagaimana bagian keraton Jinem Pangrawit di Kasepuhan yang juga berfungsi sebagai ruang tunggu para tamu yang akan menghadap raja dan mengutarakan terlebih dahulu maksud kedatangannya, (3) Narayana, sangat mungkin sebagai balai tempat pertunjukan kesenian di lingkungan keraton, hal yang sama terdapat di Kasepuhan dinamakan bangsal Pringgondani, (4) Madura, adalah bangunan keraton yang sangat mungkin berfungsi sebagai balai penghadapan, tempat pertemuan antara raja dengan pejabat tinggi kerajaannya dalam mengadakan rapat atau membicarakan berbagai masalah lainnya. Setara dengan Madura adalah bangsal Prabhayaksa di keraton Kasepuhan yang juga berfungsi sebagai balai penghadapan, pertemuan pejabat tinggi dengan sultan, (5) Suradipati adalah bangunan tempat bersemayamnya raja, letaknya paling belakang, paling dekat dengan Gunung Salak dan gunung-gunung lainnya di pedalaman tatar Sunda. Dalam lingkungan keraton Kasepuhan bangunan tempat tinggal raja beserta keluarganya sehari-hari dinamakan Dalem Arum. Adapun tempat bersemayamnya sultan pada waktu terjadi penghadapan agung adalah pada bangunan yang lantainya ditinggikan yang terletak di bagian selatan bangsal Prabhayaksa, dinamakan dengan bangsal Panembahan. Baik Dalem Arum maupun bangsal Panembahan keduanya terletak pada bagian utama keraton, di area paling selatan (Munandar 1994: 100—2).

Demikianlah bahwa akibat dari sedikit ungkapan Poerbatjaraka yang berkenaan dengan data arkeologis, yaitu asal nama Pakuwan-Pajajaran yang diartikan sebagai bangunan keraton yang berjajar. Pernyataan itu lalu dihubungkan dengan data Carita Parahyangan tentang adanya keraton kerajaan Sunda yang disebut Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, telah menjadikan penelisikan arkeologi berkembang untuk melengkapi pemahaman tentang keraton yang berjajar tersebut.

Agustus 15, 2012 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Originally posted on Biar sejarah yang bicara .......:

Sejarah baru itu terkuak dari perairan Cirebon. Jejak-jejaknya ditemukan pada sekumpulan harta karun di kedalaman 50 meter lebih dari permukaan laut. Benda berharga itu mengisi perut kapal perdagangan yang tenggelam ribuan tahun silam di 60 mil utara Cirebon. Ribuan artefak berupa keramik, emas, perak, dan rubi itu telah diangkat PT Paradigma Putera Sejahtera (PPS) dan akan dilelang awal Mei.

Peninggalan sejarah dari dasar laut itu menyimpan misteri besar. Dari sekumpulan benda berharga itu, ditemukan bukti otentik yang bakal mengubah informasi sejarah penyebaran Islam ke seluruh dunia. Kurt Tauchmann, profesor emeritus di Departemen Antropologi Universitas Cologne, Jerman, mengaku telah melihat langsung bukti sejarah itu.

Tauchmann menemukan cetakan untuk reproduksi teks kitab suci Al-Quran SURA XII-16 di dalam naskah Naskhi (Uthman). Reproduksi teks itu kelihatannya menggunakan debu emas sebagai bahan untuk mencetak tulisan. Hasil cetakan lalu dipakai sebagai jimat. Ada pula sejumlah tasbih dengan aneka ragam manik-manik, yang juga bertuliskan teks Arab…

View original 432 more words

Agustus 15, 2012 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Agustus 15, 2012 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.